CERITA RAJA ACEH MENYIARKAN ISLAM



       Konon pada masa  kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan yang sedang berjaya ke seluruh Nusantara yang mana kerajaan Sriwijaya ini banyak di pengaruhi oleh agama Budha. Raja Aceh terkenal akan kecerdikan dan tipu muslihatnya atau di kenal dengan "Tipu Aceh". Ketika itu Raja Aceh mau menaklukkan daerah kerajaan Sriwijaya, dari itu raja Aceh mengatur siasat bersama pasukannya,yang mana kalau kita mau menghancurkan kerajaan Sriwijaya maka kita duduki dulu daerah di beberapa bagian yang ada di seputaran kerajaan Sriwijaya yakni:1,Daerah Minang, 2. Daerah Bengkulu,3,Daerah Siak Kepulauan dan ke 4, Daerah Tanjung Betung beserta Kepulauannya (Lampung).

1.Daerah Minang.
     Daerah Minang terletak didaerah  pesisir barat Pulau Sumatera, yang pada masa itu kerajaan Minang takluk kepada kerajaan Sriwijaya di Palembang. Raja Minang tersebut menganut agama Animisme,walaupun menganut agama Anismisme, Raja Sriwijaya tidak mengganggu kerajaan Minang karna didaerah kerajaan Minang sangat kaya akan hasil bumi dan selalu memberikan upeti berlimpah ruah ke kerajaan Sriwijaya.
   Kemudian Raja Aceh mengatur siasat untuk menaklukkan kerajaan Minang yang di pimpin salah seorang yang bernama Datuok,Raja Minang(Datuok)selalu berpesta pora dengan rakyatnya karna hasil buminya berlimpah ruah dan selalu mengadakan pagelaran-pagelaran untuk menghormati Tuhan mereka.Pada masa itu Tuhan mereka adalah Kerbau kepunyaan Raja Datuok,di anggap Tuhan karna kerbau Datuok ini lain daripada kerbau yang lainnya,yakni badannya dua kali lebih besar dari kerbau biasa dan mempunyai tanduk yang panjang.
  Ketika pagelaran akan di adakan 1/2 tahun lagi, Raja Aceh mengutus salah satu prajuritnya untuk menemui Raja Minang. setelah Raja Minang menerima utusan Raja Aceh, Raja Minang memberi balasan kepada Raja Aceh bahwa beliau sanggup menerima tantangan dari Raja Aceh untuk beradu tanding kerbau yang mana persyaratannya apabila Raja Minang kalah maka Raja Minang  akan masuk ke agama Raja Aceh yakni Agama yang mengakui bahwa Nabi Muhamad SAW adalah Nabi utusan Allah SWT. Dan apabila Raja Aceh kalah,maka Raja Aceh mau menyembah kerbaunya kepunyaan Raja Minang dan mengganggap kerbaunya Raja Minang adalah Tuhan.
  Setelah utusan Raja Aceh kembali dari Minang dan mengetahui beritanya,kemudian Raja Aceh menyuruh menyiapkan anak kerbau dan setelah anak kerbau itu di dapat, beliau menyuruh kepada pelayannya yang mengurus kerbau supaya anak kerbau ini tidak di susukan selama persiapan pertandingan.
  Ketika waktu pertandingan tiba,pergilah Raja Aceh menghadap Raja Minang,beberapa waktu dalam perjalanan sampailah Raja Aceh ke ranah Minang, Pada pertandingan akan di gelar di arena tanding,semua penduduk Minang dan Rajanya tertawa terkekeh-kekeh melihat kerbau Raja Aceh yang berukuran kecil.Hai Raja Aceh ucapnya"Mana mungkin kerbaumu menang lawan kerbauku."Kerbauku besar dan kerbaumu seukuran anaknya".mengaku saja kau bahwa kau kalah". kemudian raja Aceh menjawab "buktikan di arena hai Datuok Minang,kerbau siapa yang akan menang"..
  Kemudian setelah itu di arena adu tanding dilepaslah kerbau Raja Minang yang bertubuh besar dan berlari-larilah kerbau raja minang keliling arena sambil di soraki oleh rakyatnya "Hidup Kerbau Raja Datuok...Hidup kerbau Raja Datuok".Selang beberapa lama kemudian kerbau raja Aceh di lepaskan ke dalam gelanggang arena dan ajaib kerbau Raja Aceh sambil berlari mengejar kerbaunya Raja Minang dengan garangnya..dan kerbau raja minang terbalik arah tidak menyerang kerbaunya Raja Aceh dan kerbaunya raja Aceh menyeruduk dengan ganasnya ke belakang kerbaunya Raja Minang sampai berdarah dan setelah itu kerbau Raja Minang mati di dalam  arena dan juga hiruk pikuk penontonpun senyap.Kerbau Raja Aceh menang..apa sebab? rupanya kerbau Raja Aceh ini mengira kerbau Raja Minang adalah induknya dan kerbaunya Raja Aceh sangat kehausan untuk menyusui..Akhirnya Raja Minang mengakui kecerdikan Raja Aceh dan mengakui agamanya Raja Aceh yakni Allah SWT adalah Tuhan dan Nabi Muhamad SAW adalah utusan terakhirNya yakni Islam.  Kemudian Raja Aceh menambahkan nama Minang menjadi "Minangkabau "yang artinya Menangkerbau. sebagian rakyat Minang tidak mau memeluk agamanya Raja Aceh kemudian mereka lari dari Pulau Sumatera ke Pulau "Mentawai" yang dikenal mereka sekarang adalah Suku "Padang Luar "sedangkan di daerah Minangkabau adalah suku "Padang dalam"

 1.Daerah Bengkulu



Komentar