Pemerintah Aceh Mahligai menuju Khilafatur Ryasidin
PEMERINTAHAN
ACEH MAHLIGAI
2010
S/D 2020
Setelah berlalunya
Pemerintahan Pemerintahan Nanggroe Aceh Darussalam dari Tahun 2000 s/d 2010
yang pada masa itu melahirkan pemekaran di daerah – daerah dari
Sabang Sampai Merauke sehingga menghempaskan konflik internal yang tak kunjung
reda sehingga dengan datangnya bencana
Tsunami di ujung negeri paling barat di negeri ini dapat menyadarkan Seantero
Negeri bahwa dengan Syariat Islam kita
dapat hidup rukun dan damai.
EMPAT
PILAR
1.PANCASILA
SAKTI
2.
UUD 1945 BERPERI
3.BHINEKA
BERSENI
4.NKRI
HARGA MATI
DENGAN
SENI
DIDIK
DIRI
DALAM
KREATIFIKASI DAN POTENSI
TANAMKAN
PERCAYA DIRI
SELAMATKAN
GENERASI
BANGKITKAN
CINTA NEGERI
Seudati untuk menegakkan Makna
Saman
untuk memadukankan jiwa
Didong
untuk merangkai kata
Rapa’I
untuk menegarkan rasa
Melengkan
untuk satukankan raga
Kebertahanan
masyarakat Aceh dalam menghadapi dua guncangan jiwa yang maha dahsyat merupakan
suatu fenomena yang patut dipertahankan. Konflik vertikal yang berkepanjangan
serta bencana gempa dan tsunami, ibarat dua kematian yang memaksa kemandirian
untuk bertahan hidup. Pasca keduanya Aceh menjajaki ruang baru dari
transformasi dan akulturasi yang menuntut konsekuensi dari kemandirian yang
telah ada. Kondisi ini tentunya menimbulkan dilema yang pelik untuk memilih
alur dari kemunculan paradigma yang beragam.
Melalui mekanisme peradaban yang horizontal serta di dukung oleh antropologi kultur masyarakat Aceh yang mampu menyelaraskan zamannya yang berteknologi serta di iringi dengan pembangunan ekonomi yang sesuai dengan peradaban yang berjalan seiring waktu, yang selama ini Globalisasi budaya luar menyerang dengan gencar untuk menghancurkan kebudayaan peradaban yang ada di Aceh sehingga sekarang di Aceh menjamurlah yang kita sebut "Zaman Now."
Seiringan dengan waktu zaman now yang kita sebut sekarang ini melahirkan Hafizh -hafizh Alqur'an cilik di Aceh untuk menangkal zaman now yang berbaju kapitalis dan imperialis. Hanya Alqur'an lah yang mampu menangkalnya, kalau kita mempelajari isi dari Alqur'an maka kita mampu menahan gejolak jiwa,hawa dan nafsu di raga kita, maka Aceh mencapai kegemilangannya ketika Hafizh cilik ini telah berumur 15 tahun dan dari itu Hukum syari'at Islam secara kaffah dapat dilaksanakan di Aceh,karna penerapan ilmu hafizh Alqur'an yang akan menyampaikannya kepada masyarakat umum.
Seiringan dengan waktu zaman now yang kita sebut sekarang ini melahirkan Hafizh -hafizh Alqur'an cilik di Aceh untuk menangkal zaman now yang berbaju kapitalis dan imperialis. Hanya Alqur'an lah yang mampu menangkalnya, kalau kita mempelajari isi dari Alqur'an maka kita mampu menahan gejolak jiwa,hawa dan nafsu di raga kita, maka Aceh mencapai kegemilangannya ketika Hafizh cilik ini telah berumur 15 tahun dan dari itu Hukum syari'at Islam secara kaffah dapat dilaksanakan di Aceh,karna penerapan ilmu hafizh Alqur'an yang akan menyampaikannya kepada masyarakat umum.

Komentar
Posting Komentar